//
you're reading...
Uncategorized

Part II =)

Tip Ke 77 : Saya selalu di hati Bukan Sekedar Perniagaan
Dengan memberikan pelayanan yang prima, penjual mampu meningkatkan jalinan hubungan dari sekedar hubungan bisnis menjadi hubungan persaudaraan. Sesuai dengan falsafah jawa “Tuno satak bathi Sanak” yang sudah dibahas dibagian terdahulu buku ini.
Hal ini diperkuat oleh pakar marketing Kotler yang menyebutkan bahwa “derajat hubungan mulai dari sekedar pembeli sekali (the first-time custumers) ? pembeli berulang (repeat costumers) ? pelanggan (clients) ? penganjur/penyokong (advocates) ? mitra (partner).
Kemitraan adalah hubungan persaudaraan. Mitra setia akan merasakan keprihatinan ketika perusahaan mengalami kerugian. Sebaliknya mitra setia merasakan kebahagiaan ketika tahu bahwa perusahaan mengalami kemajuan.
Begitu pula, pejual menjadi prihatin dan tanggap untuk segera mengganti produk yang dijualnya ketika tahu bahwa mitra yang setia mendapatkan paroduk kualitas rendah.
Mekanisme itu akan berjalan terus menerus sepanjang masing-masing pihak menyadari bahwa mementingkan persaudaraan lebih baik daripada mementingkan perniagaan semata-mata.

Tip Ke 78 : Saya selalu di hati bukan untuk laba semata
Motif seseorang untuk membeli suatu produk adalah karena produk tersebut dianggap dapat bermanfaat buat pemakainya. Transaksi terjadi kalau motif tersebut didukung daya beli dari pembeli tersebut.
Prioritas utama bagi penjual suskes adalah menetapkan penilaian bahwa bobot azas manfaat lebih besar daripada bobot keuntungan. Sehingga setiap produk yang digunakan oleh pelanggan selalu dapat memberikan kepuasan maksimal.
Orientasi kemanfaatan bukan meniadakan aspek pentingnya keuntungan tetapi justru menjamin kesinambungan perusahaan dimasa mendatang. Keuntungan adalah penting untuk menopang kehidupan perusahaan dan dapat memberikan kontribusi nyata kepada pemegang kepentingan (stake holders).
Bagaimana mungkin perusahaan dapat membeli bahan baku/barang jadi, membayar upah dan gaji karyawan serta menyelenggarakan operasional perusahaan tanpa mengharapkan keuntungan. Tetapi keuntungan adalah bukan semata-mata, karena banyak hal penting lainnya yang perlu diperhatikan perusahaan seperti : kepuasan pelanggan, kesejahteraan karyawan, kemaslahatan masyarakat, kontribusi pajak, dan sebagainya.
Dengan penjual lebih berorientasi kepada kemanfaatan produk daripada keuntungan semata-mata, maka hakekatnya penjual memupuk hubungannya dengan pembeli ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu menjadi mitra bukan sekedar pembeli “latahan”.

Tip Ke 79 : Saya selalu di hati karena komplain pelanggan
Kebiasaan buruk banyak penjual adalah lebih merespon, menyapa dan melayani pelanggan baru daripada melayani pembeli lama. Dalam rangka mengupayakan bagaimana menarik pelanggan baru sebanyak-banyaknya, maka waktu dan energi penjual banyak tersita. Sehingga kecil sekali prioritas untuk merespon klaim atau keluhan dari pelanggan lama.
Tanpa disadari semakin-lama sikap seperti itu adalah kontraproduktif. Sehingga semakin banyak pelanggan lama yang kecewa dan beralih ke produk pesaing.
Saya selalu di hati karena mendahulukan komplain Pelanggan Lama daripada bertemu dengan Pelanggan Baru adalah ungkapan guna memastikan pelanggan lama tidak kecewa.

Tip Ke 80 : Saya selalu di hati karena Amanah
Penjual Amanah adalah penjual yang memiliki sikap penuh tanggung jawab. Tanggung jawab penjual terhitung sejak produk itu digulirkan sampai dengan purna jua (after sales service).
Kebanyakan, semangat dan tanggung jawab yang tinggi seorang penjual hanya sampai dengan terwujudnya transaksi penjual. Setelah itu orientasi berpaling kepada calon pembeli baru. Sikap demikian terlalu berorientasi jangka pendek. Dapat dipastikan sikap seperti itu justru menutup pintu-pintu kesuksesan jangka mengengah dan panjang.
Penjual yang selalu dihati pembeli adalah seseorang yang memiliki komitmen tinggi untuk melaksanakan kewajiban secara terus menerus sepanjang penggunaan produk.

Tip Ke 81 : Saya selalu di hati bukan karena Nafsu.
Kehidupan manusia hidup tidak akan pernah lepas dengan sifat nafsu. Kita semua mengenal nafsu sebagai sifat khas binatang. Sehingga jika manusia melakukan perbuatan dengan landasan nafsu sering disebut manusia berprilaku kebinatangan.
Seperti kita ketahui manusia sebagi mahluk yang paling mulia dan yang membedakan dengan Malaikat adalah nafsu. Ternyata manusia memiliki sifat dasar nafsu tetapi memiliki alat kontrol, yaitu akal.
Dengan akal untuk berfikir, manusia diharapkan mampu mengendalikan nafsunya untuk kesejahteraan manusia dimuka bumi ini. Nafsu yang berakal merupakan faktor pendorong manusi dalam meraih kemajuan. Tanpa “nafsu berakal” ambisi seorang manusia sulit untuk meraih cita-cita hidupnya. Bagi seorang penjual yang berhati nurani akan mampu mengendalikan nafsu dengan fikiran dan hati sehingga pembeli akan mendapatkan produk yang sebenar-benarnya. Pembeli akan mendapatkan produk apa adanya yang sesuai dengan harapannya.

Menjual dengan hati
Seorang Penjual hendaknya menjual dengan HATI NAN TULUS ikhlas dan mampu mengetarkan hati pembeli. Saya “PENJUAL” selalu dihati-Mu “Pelanggan” merupakan ungkapan yang bisa dijadikan pedoman dalam melakukan berbagai aktivitas pemasaran.
Sesuatu yang disampaikan dengan hati akan diterima dengan hati pula. Gambaran hati adalah cerminan kebenaran. Kata hati yang paling dalam adalah kata Tuhan pencipta alam semesta.
Seorang penjual harus memiliki hati yang tulus ikhlas. Dengan kerja keras dan penuh dengan keikhlasan sesuatu yang sulit terasa mudah, yang jauh terasa dekat, yang gelap terlihat terang benderang, yang tidak mungkin terjual, yakinlah Insya Allah produk yang Anda jual akan diterima oleh banyak pembeli.
Mengutip sebagian syair lagunya Aa Gym seorang Ustat dan entrepreneur :
Jagalah Hati jangan kau kotori
Jagalah Hati jangan kau Nodai
Jagalah Hati Lentera hidup ini…
Dari dari syair lagu diatas hati merupakan lentera hidup ini. Agar lentera hidup terang benderang, maka lentera tersebut jangan dikotori atau dinodai.
Dengan kata lain segumpal darah yang namanya hati harus dipelihara sepanjang hidup, hati yang baik menjadikan organ tumbuh menjadi baik, atau sebaliknya hati yang buruk makan buruk pula organ yang lain.

1. Hati yang baik, maka akal juga berfikir yang baik-baik…
2. Hati yang baik, maka mata juga melihat yang baik-baik…
3. Hati yang baik, maka telinga juga mendengar yang baik-baik…
4. Hati yang baik, maka lidah juga mengucapkan yang baik-baik…
5. Hati yang baik, maka tangan juga mengerjakan yang baik-baik…
6. Hati yang baik, maka Kaki juga melangkah yang baik-baik…

Berfikir dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Pertama. Melihat dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Kedua. Mendengar dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Ketiga. Mengucapkan sesuatu dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Keempat. Mengerjakan dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Kelima. Melangkah dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Keenam

Discussion

Comments are closed.

%d bloggers like this: